Siti Ropiah

Guru MA Al Ishlah Cikarang Utara Kab Bekasi Jawa Barat Alumni Uin Jakarta, nomor hp 087888623714 ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Bolehkah Shalat Jumat di Rumah? (Tantangan Hari ke-74)

Bolehkah Shalat Jumat di Rumah? (Tantangan Hari ke-74)

Bolehkah Shalat Jumat di Rumah? (Tantangan Hari ke-74)

Oleh: Siti Ropiah

Hari ini, 28 Maret 2020 merupakan Jumat kedua setelah terjadi wabah Corona di Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan Pemerintah (Kemenag) menganjurkan tidak Shalat Jumat.(diperuntukkan bagi masyarakat yang terpapar Virus Copid-19).

Ketika sedang berselancar di Gurusiana, aku menemukan artikel terkait Shalat Jumat di rumah. Artikel tersebut ditulis oleh Bunda Menik Patmaningsih, S.Pd SD, dengan judul Shalat Jumat Keluarga di Rumah". Dalam artikel tersebut diungkapkan bahwa keluarga yang berjumlah 11orang melakukan Shalat Jumat di rumah. Prosesi Shalat Jumat dilakukan seperti biasanya dengan khutbah Jum'at.

Peristiwa ini sontak menarik perhatianku untuk membahasnya. Terkait hal itu, terdapat dua persoalan yaitu tempat shalat Jumat dan jumlah jemaah Shalat Jumat.

Persoalan pertama terkait tempat pelaksanaan shalat Jumat. Dalam hal terdapat dua pendapat (Lihat Imam Ghazali, Al Wasith, Kairo: Dar as Salam, 2012, juz.2, hlm.263).

Pertama, di masjid. Ini pendapat Imam Maliki.

Kedua, boleh di mana saja, tidak harus di masjid. Ini pendapat Imam Hanafi, Syafi'i dan Hambali. Didasarkan pada perkataan Umar bin Khattab

عن ابي هريرة انهم كتبوا الى عمر، يسالونك عن الجمعة، فكتب : "جمعوا حيث كنتم"

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya para sahabat menulis surat pada Umar tentang shalat Jumat. Umar membalas "Shalat Jumat di mana saja kalian berada".(HR Ibnu Abi Syaibah. Lihat Maktabah Syamilah, Mushanif Ibnu Abi Syaibah, juz.1, hlm.440, No. 5068).

Persoalan kedua terkait dengan jumlah jemaah Shalat Jumat. Dalam hal ini terdapat tiga pendapat, yaitu: (Lihat Kitab Al Majmu' juz.4, hlm.502)

Pertama, Hanafiyah menyatakan jumlah jemaah shalat Jumat itu minimal 3 orang. Hal ini didasarkan pada pengertian jama' dalam bahasa Arab.

Kedua, Malikiyyah menyatakan jumlah jemaah shalat Jumat itu minimal 12 orang. Hal ini didasarkan pada peristiwa asbabun Nuzul ayat 11Al Jumuah. Saat Rasulullah SAW berkhutbah, datanglah para pedagang. Seketika itu jemaah banyak yang bubarkan diri dan tersisa 12 orang. Didasarkan hadis riwayat Jabir

ان النبي ص م كان يخطب قاءما يوم الجمعة فجاءت عير من الشام فانفتل الناس إليها حتى لم يسبق الا اثنتا عشر رجلا

Sesungguhnya Nabi SAW khutbah dalam keadaan berdiri pada Hari Jumat, lalu datanglah rombongan dari Syam, kemudian orang-orang pergi menemuinya hingga tidak tersisa, kecuali 12 orang". (HR.Muslim. Lihat Sahih Muslim, Juz.2, hlm.590, No.863).

Ketiga, Syafi'iyah dan Hanabilah menyatakan jumlah jemaah shalat Jumat minimal 40 orang (Lihat Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, Juz.1 hlm 59). Didasarkan pada hadis

لأَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ لأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ. قُلْتُ كَمْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ قَالَ أَرْبَعُونَ.

“As’ad bin Zararah adalah orang pertama yang mengadakan shalat Jum’at bagi kami di daerah Hazmi An Nabit dari harrah Bani Bayadhah di daerah Naqi’ yang terkenal dengan Naqi’ Al Khadhamat. Saya bertanya kepadanya, “Waktu itu, ada berapa orang?” Dia menjawab, ”Empat puluh.” (HR. Abu Daud. Lihat Maktabah Syamilah, Sunan Abu Daud, juz. 1, hlm. 280, No.1069).

Terkait meninggalkan shalat Jumat karena kondisi wabah Corona dapat dilihat dari sebab dibolehkan tidak shalat Jumat salah satunya karena hujan lebat. Didasarkan pada hadis

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِي يَوْمٍ مَطِيرٍ: " إِذَا قُلْتَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَلَا تَقُلْ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قُلْ: صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ "، قَالَ: فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ، فَقَالَ: «أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا، قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي، إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ، وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِي الطِّينِ وَالدَّحْضِ»

Dari Abdullah bin Abbas, beliau berkata kepada Muadzin, "Jika engkau sudah mengumandangkan asyhadu alla ilahaillah, asyhadu anna Muhammadar Rasululluh, maka jangan ucapkan hayya ‘alash shalah, namun ucapkan shallu fi buyutikum". Muadzib berkata, "Sepertinya orang-orang mengingkari pandangan tersebut". Ibnu Abbas menjawab, "Apakah engkau merasa aneh dengan ini?". "Sungguh telah melakukan hal tersebut orang yang lebih baik dariku. Sesungguhnya Jumatan adalah hal yang wajib, namun aku benci memberatkan kepada kalian sehingga kalian berjalan di lelumpuran dan jalan yang rawan terpeleset’.” (HR Muslim. Lihat Maktabah Syamilah, Sahih Muslim, juz.1,hlm.486, No.699).

Hujan merupakan suatu yang menjadi alasan pembenar ditinggalkan Shalat Jumat. Karena bila dilakukan, akan mengalami kesulitan. Terlebih hal ini terkait wabah Corona yang dapat mengancam jiwa. Karenanya meninggalkan Shalat Jumat dan menggantinya dengan Shalat Zuhur dibolehkan. Hal ini tentu berlaku untuk kondisi yang membahayakan, sebagaimana Fatwa MUI.

Namun demikian, hal ini diserahkan kepada masing-masing diri untuk melakukan apa yang diyakini, dengan tetap menyandarkan pada dasar hukum yaitu hadis Rasulullah SAW.

Sejatinya Lakukan Ibadah dengan Bersandar pada Dalil

Salam Perindu Literasi

#Gurfati Jannati. Cikarang, 28 Maret 2020. Pukul 00.41 WIB.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

search

New Post