Siti Ropiah

Guru MA Al Ishlah Cikarang Utara Kab Bekasi Jawa Barat Alumni Uin Jakarta, nomor hp 087888623714 ...

Selengkapnya
Navigasi Web
Kontroversi dalam Ibadah (bag.1): Metode Rukyah dan Hisab

Kontroversi dalam Ibadah (bag.1): Metode Rukyah dan Hisab

Ramadan merupakan bulan yang ditunggu umat Islam. Karena banyak mengandung keberkahan di dalamnya. Bulan ramadan pun merupakan bulan saat umat Islam menjalankan puasa, sebagaimana Allah perintahkan dalam QS Al.Baqarah : 183.

Namun terkait waktu dimulai ramadan, seringkali terjadi perbedaan pendapat tentang hal itu. Hal tersebut karena perbedaan metode yang digunakan dalam penetapan 1 ramadan.

Dalam menetapkan 1 ramadan terdapat dua metode yaitu metode rukyah dan metode hisab.

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah. Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak. (Wikepedia).

Metode rukyah didasarkan pada sebuah hadis

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين

"Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) kamu karena melihat hilal. Bila penglihatan kalian tertutup mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan sya'ban 30 hari".(HR.Bukhari. lihat Maktabah Syamilah, Sahih al Bukhari, Juz.3, hlm. 27, No. 1909).

Sedang metode hisab disandarkan pada hadis

إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا وهكذا » يعني مرة تسعة و عشرين و مرة ثلاثين

Kami adalah umat yang ummiy, kami tidak menulis dan tidak menghitung. Satu bulan itu begini, begini, dan begini. Yakni terkadang 29 hari, terkadang 30 hari". (HR Muslim, lihat Maktabah Syamilah, Sahih Muslim, Juz.2, Hlm. 761, No. 1080).

Hadis ini memberikan pemahaman bahwa melihat rukyah adalah perintah berillat (alasan). Illatnya saat itu, masyarakat atau orang Islam tidak pandai tentang hisab, maka rukyahlah yang menjadi pilihan dalam penetapan awal ramadan. Hal ini sebagaimana pendapat dari Yusuf Al Qardawi, Rasyid Ridla dan Mustafa Az Zarqa.

Menurut ketiga ulama di atas, rukyat bukan merupakan ibadah, namun hanya merupakan sarana atau wasilah. Karenanya ketika sudah menemukan wasilah yang akurat untuk dilalui, maka mengapa tidak berpegang pada wasilah tersebut. Inilah yang menjadi sandaran Muhammadiyah terkait penetapan awal ramadan.

Tentu kedua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Terkait metode tersebut Indonesia di bawah Kementerian Agama menggunakan metode rukyatul hilal, namun bukan berarti menolak metode hisab.

Kedua metode tersebut saling melengkapi. Karena seorang ahli rukyat tentu memiliki ilmu tentang hisab demikian sebaliknya. Karenanya kedua metode ini tetap digunakan oleh umat Islam Indonesia, karena keduanya saling melengkapi. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Bapak Menteri Agama, saat memberikan informasi tentang penetapan 1 ramadan 1440.

Tahun ini awal puasa ramadan dilakukan secara bersamaan oleh seluruh umat Islam di Indonesia, baik yang menggunakan metode rukyat maupun metode hisab (Muhammadiyah). Hal ini memberikan bukti bahwa perbedaan metode yang terjadi tidak menyurutkan kebersamaan yang akan dicapai. Inilah bukti dari Islam rahmatan lilalamin.

Sejatinya Perbedaan Memerlukan Sikap Bijak

Salam Perindu Literasi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search